CARA MEMBUAT SURAT GUGATAN CERAI UNTUK PERCERAIAN AGAMA ISLAM

Jika yang mengajukan gugatan cerainya adalah sang istri maka surat gugatan cerainya dinamakan “Cerai Gugat”, jika yang mengajukan cerai adalah sang suami maka nama surat gugatannya “Permohonan Cerai Talak”. Untuk selanjutnya, “Cerai Gugat” dan/atau “Permohonan Cerai Talak”, ditulis dengan “gugatan cerai”.

Pada prinsipnya, tata cara pembuatan gugatan cerai adalah:

  • Mencantuman identitas para pihak:
    • Nama Lengkap
    • Agama
    • Tempat, umur dan tanggal lahir;
    • Tingkat pendidikan akhir dan Pekerjaan;
    • Tempat tinggal saat ini
  • Alasan Cerainya:
    • Menjelaskan alasan cerai secara singkat, Padat dan cermat(inti utama alasan cerainya apa)
  • Tuntutan
    • Tuntutan status cerai
    • Tuntutan Hak asuh anak
    • Harta bersama atau gono gini

Mengenai penulisan identitas/nama lengkap para pihak, ditulis lengkap sesuai dengan apa yang tertera dalam buku nikah.

Mengenai jenjang pendidikan, ditulis sesuai tingakt pendidikan akhir para pihak, apa (misalnya: D3 atau S 1, dsb.)

Mengenai pekerjaan, ditulis sesuai kenyataan, misalnya: ibu rumah tangga atau karyawan swasta atau pegawai BUMN atau Pengawai Negri Sipil/PNS.

  • Mengenai alasan cerai, ditulis dengan konsep:
    • Kapan awal ketidakharmonisan;
    • Sebab ketidakharmonisan;
    • Kapan puncak ketidakharmonisanya.

Mengenai tuntutan, sudah jelas, ingin status bercerai. Jika ingin hak asuh anak ada di istri atau di suami maka tulislah tuntutan hak asuh anak ada di siapa. Jika tidak mengajukan tuntutan hak asuh anak maka hak auh anak dipelihara secara bersama-sama.

Mengenai harta bersama atau harta gono gini, harta gono gini adalah harta yang tercipta selama masa perkawinan. Dan, jika harta tersebut ingin diminta hak nya oleh para pihak maka konsep pembagiannya adalah bagi rata, 50:50 antara suami dan istri.