SUAMI TIDAK SETUJU CERAI

Bagaimana menghadapi situasi jika suami tidak setuju untuk bercerai. Jika hal itu terjadi maka sang istri tetap bisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan asalkan mempunyai atau memegang akta/buku nikah asli (bukan photocopy).

Jika si istri hanya mempunyai 1 akta/buku nikah saja maka hal itu tetap bisa diajukan gugatan cerai. Seringkali mendapatkan situasi dimana pada saat persdanga berjalan, si suami tidak mau menghadiri persidangan, jika demikian maka pihak pengadilan wajib mengadakan panggilan lagi terhadap si suami sampai 3x, setelah itu diharapkan sidang tetap terlaksana.

Berikut tata cara perceraian di pengadilan:

  • Mempersiapkan dokumen (akta/buku nikah, akta lahir anak, KTP para pihak dan KK);
  • Membuat dan mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan berwenang;
  • Menunggu penerimaan surat panggilan sidang;
  • Menghadiri persidangan;
  • Proses/penerimaan akta cerai (jika tidak ada upaya hukum banding).

SYARAT PERCERAIAN

Syarat perceraian untuk agama islam

  • Membuat dan mendaftarkan surat gugatan cerai ke Pengadilan Agama;
  • Si penggugat harus memegang buku nikah asli (bukan photocopy);
  • Menyediakan saksi minimal 2 orang
  • Menyediakan nafkah idah dan mutah sesuai kemampuan suami (jika yang mengajukan gugatan adalah sang suami);
  • Ikrar talak (jika yang mengajukan gugatan adalah sang suami).

Syarat perceraian untuk agama Kristen/Katolik/Hindu/Budha:

  • Membuat dan mendaftarkan surat gugatan cerai ke Pengadilan Negeri sesuai wilayah tempat tinggal tergugat;
  • Penggugat harus mempunyai akta perkawinan dan kartu keluarga;
  • Menyediakan saksi minimal 2 orang
  • Jika cerai dikabulkan hakim dan tidak ada upaya hukum banding maka memproses pembuatan akta cerai di kantor Catatan Sipil.

PROSES PERCERAIAN

Bagi yang memerlukan informasi tata cara perceraian di Indonesia maka hal utama yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah:

  • Dulu menikah dalam agama apa
  • Pernikahanya didaftarkan dimana (di Kantor Urusan Agana/KUA atau kantor Catatan Sipil).

Jika menikah secara agama Islam dan didaftarkan di KUA maka proses perceraiannya hanya bisa dilakukan di Pengadilan Agama. Bagi yang menikah secara non agama Islam dan didaftarkan di kantor Catatan Sipil maka proses perceraiannya hanya bisa dilakukan di Pengadilan Negeri.

Setelah itu, dokumen-dokumen yang diperlukan dalam perceraian adalah:

  • Akta atau buku nikah
  • Akta lahir anak-anak
  • KTP atau alamat saat ini para pihak
  • Kartu keluarga

Selanjutnya, proses perceraian secara kesimpulan adalah sebagai berikut:

  • Mengetahui terlebih dahulu pengadilan mana yang berwenang memproses perkara cerai anda (Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri);
  • Mempersiapkan dokumen-dokumen (akta/buku nikah, akta lahir anak, KTP/alamat saat ini para pihak, kartu keluarga);
  • Membuat Surat gugatan cerai
  • Mendaftarkan surat gugatan cerai ke pengadilan berwenang (PA/PN);
  • Menunggu surat panggilan sidang dan menjalani proses persidangan.

SIDANG GHOIB DI PENGADILAN AGAMA

Sidang ghoib hanyalah berlaku untuk perceraian agama Islam untuk situasi dimana si tergugatnya tidak diketahui alamat atau keberadaannya. Seringkali situasi di atas terjadi dimana si suami atau si istri telah lama meninggalkan pasangannya bertahun-tahun sehingga ia tidak dapat diketahui lagi keberadaannya. Jika demikian maka si penggugat tetap dapat ajukan gugatan cerai dengan cara sidang ghoib.

Intinya, sidang ghoib itu diajukan di Pengadilan Agama berwenang, kemudian penggilan untuk Tergugat dilakasanakan melalui kantor walikota setempat sebanyak 3x (selama kurang lebih 3 bulan).

Adapun tata cara sidang ghoib sebagai berikut:

  • Alamat dan keberadaan si tergugat, tidak diketahui sama sekali
  • Surat gugatan cerai diajukan di Pengadilan Agama wilayah domisili sang istri;
  • Surat keterangan domisili terakhir si tergugat dari kelurahan;
  • Buku nikah asli;
  • Akta lahir anak-anak
  • KTP dan KK

Adapun prakiraan lama Proses persidangan ghoin, sekitar 6 bulan.

MENGHADAPI GUGATAN CERAI DARI SUAMI

Jika anda digugat cerai oleh suami anda maka sebaiknya anda membaca dengan baik isi surat gugatannya. Setelah itu anda menentukan sikap apakah setuju cerai atau tidak setuju.

Adapun tata cara menghadapi gugatan cerai suami:

  • Menunggu dikirimnya surat panggilan sidang dan surat gugatan cerai suami dari Pengadilan;
  • Membaca kapan tanggal sidang pertamanya dan membaca isi gugatan cerai serta tuntutan-tuntutannya;
  • Menentukan sikap, apakah setuju bercerai atau tidak setuju cerai;
  • Mengetahui hak dan kewajiban anda sebagai seorang istri yang digugat;
  • Menjalani setiap acara sidang yang dijadwalkan hakim;
  • Mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan (ex: buku/akta nikah, akta lahir anak-anak, KTP, KK, foto-foto/surat-surat/bukti-bukti lain yang berkenaan dengan materi perkara perceraiannya).

MENGHADAPI GUGATAN CERAI DARI SUAMI

Jika anda digugat cerai oleh suami anda maka sebaiknya anda membaca dengan baik isi surat gugatannya. Setelah itu anda menentukan sikap apakah setuju cerai atau tidak setuju.

Adapun tata cara menghadapi gugatan cerai suami:

  • Menunggu dikirimnya surat panggilan sidang dan surat gugatan cerai suami dari Pengadilan;
  • Membaca kapan tanggal sidang pertamanya dan membaca isi gugatan cerai serta tuntutan-tuntutannya;
  • Menentukan sikap, apakah setuju bercerai atau tidak setuju cerai;
  • Mengetahui hak dan kewajiban anda sebagai seorang istri yang digugat;
  • Menjalani setiap acara sidang yang dijadwalkan hakim;
  • Mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan (ex: buku/akta nikah, akta lahir anak-anak, KTP, KK, foto-foto/surat-surat/bukti-bukti lain yang berkenaan dengan materi perkara perceraiannya).

TATA CARA PERCERAIAN SINGKAT

Mungkin anda sudah mengetahui bahwa proses persidangan perkara cerai memakan waktu yang sangat lama (bisa 4 – 7 bulan), namun sebenarnya ada cara lain untuk dapat mempersingkat proses persidangan tersebut.

Cara terbaik agar proses sidang perceraian dapat dipersingkat adalah dengan cara si Tergugatnya setuju cerai juga. Dengan Tergugat setuju cerai maka Penggugat dan Tergugat (para pihak) cukup menyampaikannya kepada Hakim pada saat sidang pertama. Kemudian para pihak sepakat untuk meniadakan sidang-sidang tertentu untuk mempersingkat alur persidangan perceraian.

Langkah-langkah Perceraian singkat:

  • Para pihak setuju cerai;
  • Tergugat tidak keberatan dam membantah alasan dan tuntutan cerai Penggugat;
  • Para pihak menghadiri sidang mediasi 1x saja;
  • Para pihak menghadiri sidang laporan mediasi dan menyampaikan ke hakim bahwa Tergugugat tidak keberatan atas tuntutan cerai Penggugat;
  • Para pihak sepakat untuk langsung sidang pembuktian dan saksi Penggugat saja;
  • Tergugat tidak mengajukan banding.

Bilamana langkah-langkah tersebut di atas berhasil terlaksana maka diperkirakan proses sidangnya berjalan sekitar 2 bulan.

PROSEDUR PERCERAIAN DI PENGADILAN NEGERI

Jika anda menikah secara agama Kristen/Katolik/Hindu/Budha, melalui pendaftaran di kantor Catatan Sipil maka untuk mengadakan perceraianya harus di Pengadilan Negeri (bukan di Pengadilan Agama).

Adapun prosedur perceraian nya, sebagai berikut:

  • Membuat surat gugatan cerai
  • mendaftarkan surat gugatan cerai di pengadilan Negeri berwenang
  • Ada akta nikah (asli)
  • kartu keluarga
  • ada saksi minimal 2 orang

Surat gugatan cerai didaftarkan di Pengadilan Negeri sesuai wilayah domisili saat ini si tergugat. Biaya pendaftaranya sekitar Rp.700.000,- sampai Rp 800.000,- (beda wilayah pengadilan, beda biayanya). Setelah mendaftarkan perkara cerai, selanjutnya menunggu surat panggilan sidang dari Pegadilan Negeri (sekitar 2-3 minggu setelah pendaftaran perkara). Kemudian hadirilah persidangannya.

Lama persidangan bisa mencapai 4 bulan bahkan bisa lebih, oleh sebab itu usahakan selalu datang setiap jadwal persidangan yang ditentukan hakim. Biasanya jarak satu sidang ke sidang berikutnya sekitar 1-2 minggu, oleh sebab itulah mengapa proses sidang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

TIDAK SETUJU CERAI

Menghadapi situasi dimana anda digugat cerai oleh pasangan anda haruslah siap, tabah dan mengerti bagaimana menjalani persidangan cerai nya di pengadilan. Anda harus ketahui bahwa proses perceraian di pengadilan, tidak memerlukan persetujuan dan tandatangan si tergugat. Oleh sebab itu anda sebaiknya mengetahui langkah-langkah apa yang terbaik menghadapi situsi tersebut, sebagai berikut:

  • Berusahalah baik dan ramah dengan pasangan anda. Ajaklah bicara baik-baik dan bertanya apakah benar ia sudah mendaftarkan gugatan cerai. Jika iya maka tanyakan di pengadilan apa dan dimana ia mendaftarkan gugatan cerai tersebut. Lalu cobalah ajak berdamai dengan menyarankanya mencabu gugatannya itu dengan solusi membuat surat kesepakatan bersama;
  • Jika ia tetap ingin melanjutkan perceraian maka, anda harus menunggu surat panggilan sidang dari pengadilan;
  • Menghadiri persidangan. Jika anda tidak setuju untuk cerai maka janganlah anda justru tidak menghadiri persidangannya karena jika 3x berturut-turut dipanggil oleh pengadilan anda tidak pernah hadir maka sidang akan tetap berjalan, sehingga hak anda untuk membantah dalil-dalilnya menjadi hilang;
  • Hadirilah setiap jadwal persidangannya, bantahlah argumen-argumen alasan cerainya dan ajukanlah argumen-argumen dan bukti-bukti bahwa hubungan perkawinan anda masih bisa diperbaiki.

Selain masalah di atas, anda harus sadari bahwa permasalahan inti dari perkara perceraian adalah masalah “hati” si penggugat yang sudah tidak berkenan lagi hidup bersama anda. Oleh sebab itu cara terbaik agar ia mau mencabut gugatanya adalah dengan cara pendekatan hati.

Berusalah berubah dan ramah agar anda dan pasangan anda dapat duduk bersama mensolusikan permasalahannya. Adapun hal-hal yang mungkin dapat diusahakan agar tercipta pembatalan/pencabutan gugatan cerai:

  • Tunjukan sikap positif, ramah dan terbuka, agar terjalin komunikasi untuk tercapainya perdamaian diluar persidangan. [Ingat, bahwa masalah utama perceraian adalah “komunikasi”];
  • Ajaklah pasangan anda ke hal yang bersifat keagamaan (contoh: menemui dan konsultasi dengan seorang ustad atau ajak pergi umroh atau kebaktian bersama atau menemui seorang pastur untuk konsultasi pernikahan);
  • Dekati atau buka komunikasi dengan pihak keluarga besarnya. Carilah pihak yang dituakan dari pihak pasangan anda, mintalah saran atau ajaklah pasangan anda menemuinya dan mencari solusi bersama;
  • Ajaklah untuk mau membuat surat kesepakatan bersama yang isinya mencantumkan hal-hal yang ia tidak inginkan dan yang ia inginkan dari ibu, begitupun sebaliknya. Jadikanlah surat kesepakatan itu sebagai konsekwensi ia mencabut gugatan cerai, dan bilamana nanti diantara salahsatu pihak ada yang melanggar kesepakatan itu maka barulah ia boleh menjaukan gugatan cerainya lagi tanpa anda halang-halangi.

CARA MEMBUAT SURAT GUGATAN CERAI UNTUK PERCERAIAN AGAMA ISLAM

Jika yang mengajukan gugatan cerainya adalah sang istri maka surat gugatan cerainya dinamakan “Cerai Gugat”, jika yang mengajukan cerai adalah sang suami maka nama surat gugatannya “Permohonan Cerai Talak”. Untuk selanjutnya, “Cerai Gugat” dan/atau “Permohonan Cerai Talak”, ditulis dengan “gugatan cerai”.

Pada prinsipnya, tata cara pembuatan gugatan cerai adalah:

  • Mencantuman identitas para pihak:
    • Nama Lengkap
    • Agama
    • Tempat, umur dan tanggal lahir;
    • Tingkat pendidikan akhir dan Pekerjaan;
    • Tempat tinggal saat ini
  • Alasan Cerainya:
    • Menjelaskan alasan cerai secara singkat, Padat dan cermat(inti utama alasan cerainya apa)
  • Tuntutan
    • Tuntutan status cerai
    • Tuntutan Hak asuh anak
    • Harta bersama atau gono gini

Mengenai penulisan identitas/nama lengkap para pihak, ditulis lengkap sesuai dengan apa yang tertera dalam buku nikah.

Mengenai jenjang pendidikan, ditulis sesuai tingakt pendidikan akhir para pihak, apa (misalnya: D3 atau S 1, dsb.)

Mengenai pekerjaan, ditulis sesuai kenyataan, misalnya: ibu rumah tangga atau karyawan swasta atau pegawai BUMN atau Pengawai Negri Sipil/PNS.

  • Mengenai alasan cerai, ditulis dengan konsep:
    • Kapan awal ketidakharmonisan;
    • Sebab ketidakharmonisan;
    • Kapan puncak ketidakharmonisanya.

Mengenai tuntutan, sudah jelas, ingin status bercerai. Jika ingin hak asuh anak ada di istri atau di suami maka tulislah tuntutan hak asuh anak ada di siapa. Jika tidak mengajukan tuntutan hak asuh anak maka hak auh anak dipelihara secara bersama-sama.

Mengenai harta bersama atau harta gono gini, harta gono gini adalah harta yang tercipta selama masa perkawinan. Dan, jika harta tersebut ingin diminta hak nya oleh para pihak maka konsep pembagiannya adalah bagi rata, 50:50 antara suami dan istri.

Page 1 of 2
1 2