Tentang Gugat Cerai

  • Apa persiapan untuk mengajukan gugatan perceraian?

    • Memastikan pengadilan mana yang berwenang memproses gugatan cerai tersebut;
    • Membuat kronologis permasalahan retaknya rumah tangga;
    • Membuat gugatan perceraian & mendaftarkannya ke pengadilan yang berwenang;
    • Mempersiapkan berkas-berkas perkawinan (buku nikah, KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran anak).
  • Dimana saya mengajukan gugatan cerai?

    • Bagi yang beragama Islam, mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama.
    • Bagi yang beragama Kristen/Katolik/Budha/Hindu, mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Negeri.
  • Bagaimana mengajukan gugatan cerai?

    • Dengan cara membuat (surat) gugatan cerai, dan mendaftarkannya gugatan cerainya di Pengadilan yang berwenang.
  • Berapa biaya mendaftarkan gugatan cerai?

    • Biaya pendaftaran gugatan cerai di pengadilan sekitar Rp 400ribuan s/d Rp 500ribuan.
  • Berapa lama proses persidangan perceraian?

    • Sekitar 2 sampai 5 bulan
  • Berapa kali sidang kah proses perceraian itu?

    Di Pengadilan Agama ada 8 kali sidang, yakni :

    • Sidang pembacaan gugatan/perdamaian;
    • Sidang jawaban;
    • Sidang replik;
    • Sidang duplik;
    • Sidang bukti-saksi Penggugat;
    • Sidang bukti-saksi Tergugat;
    • Sidang kesimpulan;
    • Sidang Putusan;
    • Ucap talaq (jika yg ajukan gugatan cerai adalah si suami)

    Di Pengadilan Negeri ada 10 kali pertemuan sidang yakni :

    • Sidang mediasi (perdamaian) pertama;
    • Sidang mediasi ke-2;
    • Sidang mediasi ke-3;
    • Sidang jawaban;
    • Sidang replik;
    • Sidang duplik;
    • Sidang bukti-saksi Penggugat;
    • Sidang bukti-saksi Tergugat;
    • Sidang kesimpulan;
    • Sidang Putusan.


Tentang Materi

  • Apa-apa saja yang dapat dijadikan alasan perceraian?

    • Salah satu pihak berbuat zina/pemabok/pemadat/penjudi/dll yang susah disembuhkan;
    • Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin/alasan yang sah;
    • Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau yang lebih berat;
    • Salah satu pihak melakukan tindak kekerasan/penganiayaan yang membahayakan pihak lain;
    • Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit yang menyebabkan tiddak dapat menjalani kewajibannya sebagai suami/istri;
    • Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan lagi untuk hidup rukun.
  • Apa dampak/akibat perceraian bagi seorang (mantan) istri?

    Bagi yang muslim

    • Istri yang dicerai talaq oleh suaminya berhak mendapatkan nafkah idah dan mutah;
    • Umumnya si (mantan) istri mendapatkan hak pemeliharaan anak bila si anak belum berumur 12 th keatas (mumayiz);
    • Si (mantan) istri berhak mendapatkan bagiannya pada harta gono-gini

    Bagi yang non-muslim

    • Umumnya si (mantan) istri mendapatkan hak pemeliharaan anak bila si anak masih balita (bawah lima tahun);
    • Si (mantan) istri berhak mendapatkan bagiannya pada harta gono-gini
  • Apa dampak/akibat perceraian bagi seorang (mantan) suami?

    Bagi yang muslim

    • Suami yang digugat cerai istrinya. Maka si suami tidak berhak memberikan nafkah idah dan mutah
    • Si (mantan) suami wajib membiayai dan menafkahi anaknya untuk kepentingan kehidupannya sehari-hari dan biaya pendidikannya;
    • Si (mantan) suami juga berhak mendapatkan bagiannya pada harta gono-gini

    Bagi yang non-muslim

    • Si (mantan) suami wajib membiayai dan menafkahi anaknya untuk kepentingan kehidupannya sehari-hari dan biaya pendidikannya;
    • Si (mantan) suami juga berhak mendapatkan bagiannya pada harta gono-gini
  • Apa itu harta gono-gini?

    • Adalah harta bersama yang diciptakan selama masa perkawinan
  • Bagaimana menentukan pembagian harta gono-gini?

    • Pembagian harta gono-gini adalah akibat dari adanya perceraian, cara pembagiannya adalah membagai rata, masing-masing (suami dan istri) mendapat ½ bagian dari harta gono-gini tersebut.
  • Apa itu nafkah idah?

    • Adalah pemberian nafkah dari (mantan) suami kepada (mantan) istrinya selama 3 bulan berturut-turut (selama masa idah) setelah diucapkannya talak oleh si (mantan) suami. Nafkah idah umumnya berupa uang.
  • Apakah mut’ah itu?

    • Adalah kado terakhir dari (mantan) suami kepada (mantan) istri sebagai akibat dari adanya perceraian. Mutah dapat berupa benda/perhiasan ataupun uang.
  • Bagaimana menentukan besarnya nafkah idah dan mut’ah?

    • Umumnya besarnya biaya nafkah tersebut disesuaikan berdasarkan kesepakatan atau berdasarkan kemampuan si (mantan) suami.
  • Apa itu hak pemeliharaan/pengasuhan anak?

    • Adalah hak asuh yang ditentukan oleh hakim kepada salah satu pihak yang bercerai, sebagai akibat adanya perceraian.
  • Siapa yang umumnya mendapatkan hak pemeliharaan anak akibat dari perceraian?

    • Adalah si (mantan) istri, karena secara biologis umumnya seorang anak lebih dekat dan lebih membutuhkan perhatian seorang ibu. Namun jika si ibu-nya itu adalah seorang pemadat atau terbukti zinah, maka hak pemeliharaan anak dapat dipegang opeh si ayah (si mantan suami-nya).
  • Bagaimana bila salah satu pihak ada yang punya hutang dengan pihak lain?

    • Umumnya dilakukan kesepakatan diantara suami dan istri, namun umumnya yang terjadi hutang tersebut ditanggung oleh masing-masing pihak yang berhutang.
  • Bagaimana dengan harta warisan/rumah warisan, bisakah dibagi pembagiannya dalam pembagian harta gono-gini?

    • Harta warisan adalah harta bawaan, bukanlah harta bersama. Oleh sebab itu harta warisan tidak dapat dibagi pembagiannya dalam pembagian harta gono-gini sebagai akibta perceraian.
  • Kapan perceraian itu dianggap telah putus secara hukum?

    • Setelah salah satu pihak tidak mengajukan banding di pengadilan setelah 14 hari dibacakannya putusan cerai oleh hakim kepada para pihak.

Konsultasi Perceraian Langsung

BBM / Pin BB 274F301C
HP 0878.7872.2282
Berbayar